Sok Tahu tentang Membenci dan Mendendam


Mendendam dan membenci adalah hal yang melelahkan dan sama sekali tidak mengenakan. 

Namun kenapa banyak sekali orang-orang yang tetap memilih untuk membenci dan memelihara dendamnya? Termasuk diriku beberapa tahun silam.


Kali ini aku mencoba untuk menjadi sok tahu dan berhipotesa. Maka apriori dari kesoktahuan ini mengarah ke sebuah kata yaitu EGO. Mereka ingin memelihara egonya dengan terus mempercayai bahwa semua ini terjadi karena kesalahan pihak "sana" dan dirinya adalah korban. Bahwa mereka adalah korban dari kenelangsaan. 


Mungkin betul bahwa semua ini adalah kesalahan pihak "sana". Namun membenci dan mendendam tidak akan merubah masa lalu sedikitpun, sama sekali tidak. 


Mereka nyaman dan bangga dengan label "korban" yang mereka sematkan untuk dirinya sendiri. Bertendensi untuk melemahkan diri sendiri, karena sebetulnya menjadi lemah memiliki kenyamanan tersendiri. Karena mereka yang lemah dan tak bernyali tidak harus berlaga di medan perang. Pengecut. Pengecut yang tidak berani melawan kesedihannya sendiri. 


"Aku tidak mampu melawan kesedihanku, maka kebencian dan dendam adalah sedasi."


Lantas memang kenapa kalau kamu adalah korban? Apakah membanggakan lukamu pada diri sendiri bisa mengobati luka? Kamu hanyalah merayakan penderitaanmu, seorang diri. Membenci dan mendendam adalah bentuk selebrasi dari penderitaanmu sendiri.


Terus-menerus merasa kecil, konstan mengasihani diri sendiri. Seakan-akan ketagihan akan afirmasi dan validasi untuk dirinya sendiri bahwa pihak "sana" lah yang menjadi penyebab segala kebencian ini. Bahwa pihak "sana" lah sang bajingan sejati. Padahal membenci dan mendendam adalah keputusanmu sendiri. 


Membenci dan mendendam adalah bentuk mengasihani diri sendiri. Mengasihani diri sendiri membuatmu merasa kecil, memadamkan diri sendiri. Kamu perlahan-lahan membunuh dirimu sendiri. Maka kamu tidak ada bedanya dengan orang yang menyakitimu, atau malah lebih buruk.

 

"Kamu perlahan-lahan membunuh dirimu sendiri."

 

 

 

Evander Abraham, 5 Juli 2022

*ditulis ketika mabuk

Comments

Popular Posts